Religi  

Nasab Keilmuan Syekh Abdul Qodir Jailani Hingga Menguasai Ilmu Tauhid, Fiqih Hingga Tasawuf

MZAZ.icwpost.id

Selain nasab keturunan yang menyambung hingga ke Rasulullah, baik jalur ayah maupun ibu, Syekh Abdul Qadir Al Jailani juga punya nasab keilmuan yang sampai hingga ke Baginda Nabi.

Keluarga Syekh Abdul Qadir Al Jailani telah menyadari bahwa menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim.

Sehingga Syekh Abdul Qadir Al Jailani dikirim oleh ibunya ke madrasah lokal di Kota Jilan untuk belajar agama Islam sejak usia 5 tahun hingga umur 18 tahun.

Setelah berusia 18 tahun, Syekh Abdul Qadir Al Jailani memohon izin kepada ibunya untuk melanjutkan pendidikan di Baghdad.

Ibunda pun setuju anaknya menuntut ilmu di Baghdad, karena memang pada masa itu pusat ilmu pengetahuan berada di kota tersebut.

Dilansir dari laman JATMAN, di Baghdad pada 488 H, Syekh Abdul Qadir Al Jailani menimba ilmu di “Jami’ah Nizamiyah” yang merupakan pusat pendidikan Islam pada masa itu.

Madrasah Nizamiyah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan teologi yang diakui negara. Madrasah Nizamiyah didirikan pada tahun 1065 M oleh Menteri Persia yakni Nizam al-Mulk.

Di Madrasah tersebut Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani sempat berguru kepada ulama-ulama tersohor dan mendapat ilmu qira’at, tafsir, hadits, fiqih, dan tarekat.

Adapun ulama’ tersebut adalah:

  1. Abul Wafa’ Ali Ibnu Aqil
  2. Abu Zakaria Yahya bin Ali at Tibrizi.
  3. Abu Sa’id bin Abdul Karim
  4. Abul Anaim Muhammad bin Ali bin Muhammad
  5. Abu Sa’id bin Mubarok al Mahzumi
  6. Abu Khoir Hammad bin Muslim Addabbas.

Dalam bidang hadits, Syekh Abdul Qadir Al Jailani memperoleh ilmu dari beberapa ulama, diantaranya:

  1. Sayyid Abul Barokat Talhah al Quli
  2. Abul An’am Muhammad bin Ali bin Maemun al Farisi
  3. Abu Utsman Ismail bin Muhammad al Isbhihani.
  4. Abu Gholib Muhammad bin Hasan al Baqilani.
  5. Abu Muhammad Ja’far bin Ahmad bin Husaini.
  6. Sayyid Muhammad Muhtar al Hasyimi.
  7. Sayyid Abu Manshur Abdurrahman al Qoz’az.
  8. Abul Qosim Ali bin Ahmad Ban’an al Karghi.

Dalam bidang fiqih, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berguru pada beberapa ulama’ diantaranya:

  1. Abul Wafa’ Ali Ibnu Aqil.
  2. Abul Hasan Muhammad bin Qodhi Abul Ula.
  3. Aul Khattab Mahfudz al Hambali.

Dalam bidang adab, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berguru pada: Al Alamah Abu Zakaria at Tabrizi, beliau merupakan salah satu ulama yang mashur dan cukup produktif pada masa itu, karya belliau diantara adalah “Tafsir Alqur’an wa I’rob”, “Syarah Qoshoidul Asyr“ dan “Sarah Diwan abu Tamam”.

Selain mendalami berbagai macam ilmu agama, Syekh Abdul Qadir Al Jailani juga mendalami ilmu Tasawuf.

Dalam mendalami ilmu tasawuf, beliau berguru pada Syaikh Hammad bin Muslim ad-Dabbas. Pemikiran-pemikiran beliaulah yang kemudian banyak mempengaruhi kehidupan sufistik Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.

Syaikh ad-Dabbas dikenal berkepribadian sangat keras, tegas dalam tutur kata, dan kaku dalam bergaul. Metode yang dipakai mujahadah.

Perlakuan keras yang dilakukan oleh Syaikh ad-Dabbas itulah kemudian menjadi ujian bagi para murid-muridnya, hal inilah yang menjadi takaran seberapa jauh tingkat kesabaran dan ketabahan seorang murid, sebab tasawuf itu menjauhi kesenangan dan hawa nafsu.

Syekh Abdul Qadir Al Jailani ternyata juga pernah mengasingkan diri selama 25 tahun. Berjalan menyusuri pegunungan Irak dan desa yang tak perpenduduk.

Dalam perjalanannya itu, ia tak mengenali orang dan orang juga tak mengenalinya. Pada awal pengembaraannya ia melalui rintangan-rintangan yang berat, jarang tidur dan jarang tidur. Bahkan dalam beberapa hari ia tidak makan. (Red01/Ril)