Medan  

Walkot Bobby: Seluruh Warga Medan Tidak Boleh Dipungli

Medan.icwpost.id

Wali Kota Medan Bobby Nasution pun angkat bicara soal pengakuan Pungli Lurah tersebut. Menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut mengatakan jangankan Amir Arief, seluruh warga Kota Medan tidak boleh dipungli.

“Pokoknya jangankan direktur KPK, seluruh masyarakat Kota Medan nggak boleh dipungli,” kata Bobby Nasution usai membuka Ramadhan Fair XVII tahun 2023 di Medan, Selasa (28/3) malam.

Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief, mengaku pernah menjadi korban pungutan liar (pungli) sebesar Rp 20 ribu oleh lurah saat mengurus surat kematian ibunya pada tahun 2021 silam.

Bobby mengaku telah menekankan kepada jajaran Pemkot Medan agar tidak melakukan pungli. Ia memberikan contoh, jika kegiatan Ramadhan Fair yang sedang berlangsung juga tidak dibolehkan ada pungli, karena sudah dibiayai oleh APBD.

“Pokoknya yang kita tekankan ke seluruh jajaran Pemkot Medan tidak ada pungli, termasuk kegiatan Ramadhan Fair ini, kita tekankan betul karena kegiatan ini dibiayai oleh APBD,” ujarnya.
Kemudian Bobby kembali menegaskan bahwa masyarakat Kota Medan dan yang pendatang, tidak boleh dipungli. Hal itu terus ia tekankan ke jajarannya. “Jadi bukan hanya seluruh masyarakat Kota Medan, yang datang ke Kota Medan (tidak boleh dipungli), harapan kita dari aparat kami, kami tekankan terus jangan ada pungli,” tutupnya.

Sebelumnya, Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief menceritakan peristiwa dirinya dipungli itu terjadi tahun 2021 lalu, sayangnya Arif tidak menjelaskan secara rinci lurah mana yang melakukan pungli. Hanya saja dia mengaku kena pungli saat mengurus surat kematian setelah tiga hari ibunya dikebumikan.

“Tahun lalu, saya pulang kampung, kampung saya di Medan, tahun lalu, 1,5 tahun lalu, 2021, ibu saya meninggal di Medan, pulang kampung lah saya, hari ketiga setelah pemakaman saya mau urus surat keterangan kematian, ke lurah, lurah Kota Medan,”
Saat sampai di kantor lurah sekitar pukul 11.00 WIB, meskipun sudah siang, ia hanya menemukan dua orang pegawai di kantor tersebut. Amir pun menyampaikan niatan untuk mengurus surat kematian ibunya tersebut, namun dia diminta oleh pegawai untuk menunggu lurah datang ke kantor.

Pegawai yang juru ketik di kantor lurah itu, tidak mengetahui pasti kapan lurah berjenis kelamin perempuan tersebut tiba di kantor. Setelah empat jam menunggu, lurah tersebut tiba di kantor lurah.

“Dia lihat saya bilang ‘ada mau urus apa bang?’, Adik saya jelasin ‘saya mau urus surat kematian’, oh ya cepet aja tuh tanda tangan, 5 menit jadi tanda tangan. Adik saya lalu beranjak dari kursi, baru setengah beranjak bu lurah langsung teriak ‘bang kok gitu aja bang?,” ucapnya.

Dia pun tahu maksud arah pembicaraan lurah yakni uang. Kemudian dia bertanya ke wanita yang ada di kantor lurah itu. Amir mengaku bertanya langsung kepada lurah tersebut. Lurah tersebut kemudian mengeluarkan angka Rp 20 ribu.

“Saya tanya ‘berapa?’, ‘Rp 20 ribu’. Rp 20 ribu dari warganya yang sedang berduka, ngurus surat keterangan kematian bayar Rp 20 ribu, tahun 2021, 76 tahun RI merdeka, kita masih ngalamin itu, saya sendiri yang alamin, salah orang kali,” tutur Amir. (Red01/ril)