Breaking News
Medan  

Polda Sumut Dinilai Tidak Maksimal Lindungi UKM

Polda Sumut Dinilai Tidak Maksimal Lindungi UKM

Medan.ICWPost.id |
Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut) dinilai belum mampu memberikan perlindungan dan rasa nyaman bagi pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam mengelola dan menjalankan usahanya, terkait keresahan pengusaha kilang padi di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Hal ini diungkapkan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Ismail Lubis usai menerima pengaduan dan permohonan bantuan untuk pendampingan hukum, pelaku UKM kilang padi asal Pantai Labu, Suanto, Rabu (6/7) petang.

Suanto yang datang ke kantor LBH medan didampingi puluhan pelaku UKM asal Medan, Deli Serdang dan juga Serdang Bedagai serta Ketua Forda UKM Sumut, Sri Wahyuni Nukman dan pengurus lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Suanto menuturkan,”Kalau kita melihat kasus ini menambah panjang UMKM yang jadi korban keganasan yang berlindung di balik kata-kata penegakan hukum,” ujar Ismail.

Namun melihat kronologis yang disampaikan pelaku UMKM lanjut Ismail, secara administrasi izin usahanya sudah lengkap. Namun dengan alasan adanya laporan informasi (LI) dilakukan proses penggeledahan hingga penyitaan.

“Walaupun penyitaaan itu kita lihat, tidak sesuai dengan prosedur hukum. Artinya, tidak diberikan juga data-data ataupun izin penyitaan, dokumen-dokumen berita terkait apa yang diambil,” ujar Ismail.

Melihat hal tersebut, pihaknya menilai Polda Sumut belum memberikan perlindungan hukum yang kuat kepada pelaku UMKM. Sehingga ini sangat bertentangan sekali dengan nawacita Jokowi, salah satunya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan juga ketahanan pangan.

“Dimana kita melihat korban ini, dalam konteks untuk meningkatkan ketahanan pangan Sumatera Utara, tapi usahanya ‘diganggu’ seperti ini. Kenapa kita bilang bahasa ganggu, harusnya Polda mendapatkan bukti sampel dulu dari produk yang sudah dipasarkan. Bukan yang di dapat dari gudang ataupun pabrik. Karena yang kita pahami dari gudang atau pabrik kan belum diedarkan itu,” ujarnya.

“Nah ini kan menjadi bias penegakan hukum dan menjadi jelas bagi kita, Ini adalah upaya-upaya kriminalisasi dalam proses penegakan hukum,” sambungnya.

Karenanya, Propam diminta tegas untuk memproses ini dan juga menghukum siapapun yang terlibat.

“Jika terbukti ada pelanggaran etik, mereka harus dihukum seberat-beratnya,” ujarnya.

Terkait permintaan pendampingan dari UKM, Ismail mengatakan pihaknya sudah menerima dan akan mempelajari seluruh dokumen resmi milik Suanto.

Sebelumnya, Suanto menyebutkan kilang padi miliknya ‘digerebek’ pada 29 Juni 2022, oknum polisi membawa surat perintah penyelidikan bernomor: Sprin-lidik/230/VI/2022/Ditreskrimsus tertanggal 20 Juni 2022 .

Berdasarkan surat tersebut, tempat usahanya ‘digrebek’ untuk melakukan pemeriksaan surat izin usaha.

Namun ia merasa ada yang janggal, apalagi surat tersebut tidak boleh difoto dengan alasan surat negara. Belum lagi surat tersebut juga tidak jelas ditujukan kepada siapa dan dimana alamatnya.

Setelah dibolehkan difoto, Suanto akhirnya memperkenankan tamu tak diundang itu masuk. Namun saat masuk, oknum tersebut justru terkesan mencari-cari kesalahan. Dengan bertanya, sumber beras dari mana, padi dari mana, bahan baku dari apa, pungkasnya. (Red01/Ril)