Aceh Timur-icwpost I Peristiwa alam pada akhir November tahun 2025 lalu, bencana banjir menghancurkan Desa Rantau Panjang Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Aceh itu kini masih belum optimal kondisinya.
Desa yang sering disebut Ranto Panjang Bedari, diketahui terletak di kawasan dibawah kaki pegunungan Bendahara itu mengalami kondisi sangat parah akibat diterjang bencana banjir dan mengakibatkan kondisi kehidupan masyarakat terpuruk total.
Menurut Manajer Yayasan Geutanyoe, Nasruddin, S.E., diperoleh keterangan dari sumber-sumber terpercaya di Desa Rantau Panjang Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, khususnya di Dusun Bedari harus ditangani serius dan fokus guna mengembalikan kehidupan normal masyarakat.
“Kita sangat berharap adanya keseriusan dan fokus untuk membangun kembali pemukiman masyarakat di Desa Rantau Panjang Simpang Jernih itu, terlebih lagi desa tersebut berada dipedalaman Aceh Timur dan terisolir dari akses pemerintahan,” kata Nasruddin, S.E., Jum’at, (10/7)
Manager Yayasan Geutanyoe itu juga menyampaikan pesan kepada masyarakat kawasan kaki Gunung Bendahara itu agar kedepannya tidak lagi merusak lingkungan, terutama kawasan hutan yang dilindungi oleh aturan Undang-undang negara karena semua itu bertujuan baik bagi stabilitas lingkungan dan masyarakat.
“Setiap peringatan dan edukasi yang disampaikan oleh semua pihak untuk tidak melakukan aktivitas pengrusakan kawasan hutan agar didengarkan dan tidak melakukan aktivitas ilegal logging tersebut, semua itu demi keselamatan umat manusia, jadikan peristiwa musibah ini sebagai kaji diri bagi kita semua,” pesan Manager Yayasan Geutanyoe itu.
Keterangan juga diinput awak media ini dari salah seorang Tokoh Masyarakat Desa Rantau Panjang Simpang Jernih, Abu Said, salah seorang anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Aceh Timur menyebutkan, kondisi Desa atau Gampong Rantau Panjang Simpang Jernih sangat memprihatinkan akibat diterjang bencana alam akhir November tahun lalu.
“Kita sangat berharap kepada semua pihak agar serius mengembalikan kondisi kehidupan masyarakat dan bantuan hunian yang layak kepada masyarakat korban dampak bencana alam di desa kami, yang paling penting adalah memenuhi kebutuhan dan pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan,” harap Abu Said.
Pihaknya sangat berharap perhatian utama bagi kelompok rentan, atau disebut kelompok lanjut usia, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, penyandang cacat, serta warga mengidap penyakit akud untuk berikan pelayanan perioritas, terutama pelayanan kesehatan.
“Kita sangat memahami kondisi lingkungan pasca bencana alam, dimana akibat dari perubahan iklim dan cuaca itu sangat cepat terserang wabah penyakit dan butuh waktu untuk netralitas dan stabilitas hingga sampai setahun,” kata Tokoh Masyarakat Rantau Panjang Simpang Jernih itu.*
SAP







